Kemajuan teknologi menyajikan sumber informasi dan komunikasi secara luas yang melahirkan masyarakat informasi (information society) (Yusniah et al., 2022), sehingga masyarakat dapat menyampaikan informasi dan berkomunikasi secara luas dan cepat. Rogers menggambarkan information society sebuah masyarakat yang sebagian besar angkatan kerjanya adalah pekerja di bidang informasi yang dianggap paling penting dalam kehidupan (wikipedia, 2023). Informasi dan komunikasi dapat diakses melalui perangkat komunikasi yaitu smartphone yang dapat terhubung ke internet (Kristiyono, 2015).
Internet adalah jaringan global yang dapat terhubung tanpa batas dari berbagai situs dan membuka akses kepada jutaan pengguna di seluruh dunia (Rohaya, 2019). Kehadiran internet banyak diminati karena dapat mengakses informasi dengan cepat, sehingga jumlah pengguna terus bertambah setiap tahunnya. Pada tahun 2024 pengguna internet mencapai 221.563.479 dari total jumlah 278.696.200 jiwa (APJI, 2024). Pertumbuhan internet dapat memunculkan inovasi baru yang dirancang untuk mempermudah kehidupan masyarakat dalam berbagai hal yaitu Artificial Intelligence (AI).
Artificial Intelligence (AI) merupakan teknologi canggih yang telah dirancang melalui sistem komputer untuk menjalankan fungsi menyerupai kemampuan manusia. Artificial Intelligence (AI) merupakan kecerdasan buatan dalam ilmu komputer yang telah dirancang untuk mengembangkan sistem, algoritma dan model matematika, Artificial Intelligence (AI) dapat mengenali pola dan membuat keputusan secara cerdas (aws amazon, n.d.). Kecerdasan ini dirancang untuk menjalankan tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh manusia (wikipedia, n.d.).
Artificial Intelligence (AI) memiliki kemampuan mengidentifikasi pola dan objek dalam data termasuk wajah manusia mulai dari sebuah foto dan mengubahnya menjadi sebuah video dengan ucapan yang ingin disisipkan sesuai keinginan. Pembuatan konten dapat digunakan dalam berbagai aplikasi termasuk dalam hiburan, pemasaran, dan teknologi keamanan (Sulistyawati Handayani et al., 2024).
Artificial Intelligence (AI) merupakan bagian penting dalam meningkatkan potensi media sosial (Sulistyawati Handayani et al., 2024) diantaranya: 1) menemukan target sasaran dengan menganalisis data yang besar dan kompleks tentang demografi, psikografi, motivasi, dan perilaku pembelian pelanggan sebelumnya; (2) mengevaluasi dampak iklan dengan mengukur efektivitas kampanye iklan; (3) perencanaan dan pembelian media dengan menganalisis tren media, pola konsumsi media, dan preferensi, dan akhirnya; (4) penciptaan iklan yang dapat menghasilkan konten yang lebih relevan dan menarik bagi setiap individu.
Dalam hal ini, Artificial Intelligence (AI) dapat menganalisis target sasaran dengan mengidentifikasi tren relevan dan menciptakan strategi iklan yang efektif. Dengan kemampuan canggih, Artificial Intelligence (AI) dapat menawarkan ide iklan tepat sasaran dan secara otomatis membuat iklan yang sesuai dengan kebutuhan audiens.
Selain kelebihan yang dimiliki, kemampuan AI dalam media sosial dapat menimbulkan tantangan yang perlu dihadapi (Anugrah, 2024) yaitu :
1. Privasi pengguna
Privasi pengguna merupakan salah satu tantangan utama dalam penggunaan AI di media sosial. AI bergantung pada data besar yang dikumpulkan dari pengguna untuk mempersonalisasi pengalaman mereka dan memberikan rekomendasi konten yang relevan. Namun, penggunaan data pribadi yang begitu banyak menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana data tersebut dikelola, disimpan dan digunakan oleh platform media sosial.
2. Pengumpulan dan penggunaan data pribadi
AI dapat mempersonalisasi pengalaman pengguna dengan mengumpulkan informasi pribadi, seperti data demografis, preferensi, dan aktivitas online di platform media sosial. Data tersebut dapat digunakan untuk menganalisis perilaku dan menyajikan konten yang sesuai. Namun, banyak pengguna tidak tahu sejauh mana data mereka dipakai atau bagaimana pihak ketiga bisa mengaksesnya.
3. Masalah potensial
Pengumpulan data besar-besaran bisa menimbulkan masalah privasi, terutama jika disalahgunakan atau bocor. Kasus seperti Facebook-Cambridge Analytica menunjukkan data pribadi pengguna dapat dipakai untuk kepentingan politik atau bisnis tanpa izin mereka. Selain itu, masalah privasi dapat diperburuk dengan adanya ketidakjelasan mengenai bagaimana data tersebut diproses oleh algoritma Artificial Intelligence (AI). Jika platform tidak cukup transparan mengenai bagaimana algoritma Artificial Intelligence (AI) bekerja dan bagaimana data pengguna digunakan,hal ini dapat mengurangi kepercayaan pengguna dan menimbulkan keraguan mengenai etika penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) di media sosial.
Salah satu bukti nyata tantangan media sosial dalam penggunaan Artificial Intelligence (AI) dengan adanya teknologi Deepfake. Teknologi Deepfake adalah metode digital yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk dapat memproduksi gambar atau gambar bergerak dengan memanfaatkan algoritma khusus untuk menghasilkan konten yang tampak seperti asli (Novera & Z, 2024). Sistem kerja deepfake memungkinkan sebuah foto, audio atau video yang isi dan objeknya berbeda satu sama lainnya dapat digabungkan menjadi satu dan menghasilkan suatu luaran yang hasilnya sangat mirip seperti nyata (Silvia Maharani Iskandar Putri, 2023). Namun saat teknologi Deepfake banyak digunakan, seperti pencurian identitas, seseorang menggunakan video dan suara palsu untuk mencemarkan nama baik dan menipu masyarakat dengan penyebaran hoax.
Hoax adalah berita bohong yang memberikan dampak negatif
terhadap kebebasan berbicara dan berpendapat di media sosial dengan menyebarkan
informasi menyesatkan yang dapat merusak kepercayaan publik. Informasi
Hoax dapat
tersebar secara luas karena banyaknya masyarakat yang mudah percaya pada
informasi yang sering dianggap selalu benar (Rahmadhany et al., 2021).
Pada tanggal 4 November - 16 Desember 2024, hasil pemantauan yang dilakukan Jabar Saber Hoaks, terdapat banyak temuan berita hoax di media sosial yang menggunakan teknologi AI. Salah satunya yaitu informasi yang menyatakan bahwa Prabowo mengadakan program berbagi rezeki untuk masyarakat yang membutuhkan di media sosial TikTok. Akun tersebut menjelaskan bahwa Prabowo Subianto mengadakan program berbagi rezeki untuk modal usaha, membayar hutang, biaya sekolah dan kebutuhan lainnya dimana program tersebut di klaim resmi dan benar. Namun akun tersebut bukan akun resmi @prabowosubianto. Setelah ditelusuri dari Kementrian Komunikasi dan Digital menyebutkan bahwa unggahan tersebut merupakan hasil editan yang ditambahkan audio serta telah dimanipulasi. Serta hasil penelusuran dengan berita yang surupa melalui artikel Humas Polres Kupang (2024) menyebutkan bahwa unggahan tersebut adalah sebuah penipuan.
Adapun hoaks lain yang berbasis AI ditemukan di media sosial, yaitu Haji Umuh Muchtar berbagi rezeki uang tunai. Pada video tersebut menyebutkan bahwa Haji Umuh Muchtar seorang pengusaha terkaya di Kota Bandung, melalui akun TikTok pertamanya Haji Umuh Muchtar berbagi uang tunai sebesar Rp. 20.000.000. Uang tersebut dibagikan kepada orang-orang yang sudah follow, tekan love dan membagikan postingan pada akun tersebut. Setelah ditelusuri dari akun TikTok resmi @umuh.muchtar54 tidak ditemukan video terkait berbagi rezeki uang tunai tersebut, dan jika diperhatikan tampilan video terlihat kurang nyata.
Penyebaran berita hoaks di media sosial dapat merugikan masyarakat karena informasi yang sesat. Maka, pentingnya meningkatkan literasi digital agar kita lebih cerdas dalam menerima dan memastikan kebenaran suatu informasi.
Adapun cara menyikapi berita hoaks beredar di media sosial yang beredar di media sosial (Abdi et al., 2023) yaitu :
1. Hati-hati dengan judul provokatif
Judul pada berita hoaks biasanya dirancang untuk menarik perhatian bagi pembaca. selain itu judul sengaja menggunakan kata-kata provokatif dan berlebihan agar pembaca dapat tertarik pada berita tersebut.
2. Cermati alamat situs
Jika mendapatkan sebuah informasi yang diarahkan menuju situs web atau link harap berhati-hati dan periksa alamat URL-nya terlebih dahulu dengan teliti. Jika situs tersebut belum terverifikasi sebagai media resmi maka informasi tersebut perlu diwaspadai. Menurut catatan Dewan Pers terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita, dari jumlah tersebut sudah terverifikasi sebagai situs berita. Namun yang sudah terverifikasi situs resmi tak sampai 300.
3. Periksa Fakta
Perhatikan sumber berita yang beredar, apakah berasal dari akun resmi atau bukan. Jika berita tersebut bukan beredar dari akun resmi maka jangan mudah percaya, tetapi harus memastikan terlebih dahulu dengan melakukan verifikasi pada informasi yang beredar melalui akun resmi agar dapat memastikan kebenarannya.
4. Cek Keaslian foto atau video
Di era digital saat ini foto dan video dapat dimanipulasi menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk menyebarkan berita hoax agar dapat menarik perhatian masyarakat, sehingga keaslian pada informasi akan sulit untuk dipastikan. Namun untuk memastikan keaslian foto atau video tersebut dapat menggunakan Hive Moderation (hivemoderation.com). Situs tersebut dapat berfungsi untuk mendeteksi keakuratan konten yang berpotensi merugikan masyarakat dan mencegah penyebaran informasi hoax atau menyesatkan.
Apabila menemukan informasi mencurigakan yang menimbulkan kebingungan atau keresahan di masyarakat, maka dianjurkan untuk segera mengambil langkah proaktif dengan melaporkan hal tersebut melalui situs resmi Jabar Saber Hoaks (saberhoaks.jabarprov.go.id).